Selasa, 01 Desember 2015

Pengajian Rutin Masjid Agung Madani Islamic Centre Rokan Hulu

Fikih tentang Mimpi : رُؤْيَا
Oleh : Ustadz Dr.H.Mawardi Shalih Lc. MA
Penulis : Andri syahputra (Mahasiswa Institut Sains al-Quran Syekh Ibrahim)
A. Pengertian mimpi
Mimpi adalah segala sesuatu yang dilihat di alam bawah sadar/ tidur.
Kata yang berkaitan dengan mimpi :
a. Ru’ya : segala sesuatu yang dilihat dialam bawah sadar/ mimpi
b. Ru’yah : segala yang dilihat dalam keadaan sadar
c. Ilham : anugrah dari allah kepada hamba nya yang shalih “sesuatu yang membuat hati nya tenang”
d. Al-hulu : adalah mimpi yang buruk
e. Khatir : kekhawatiran dalam keadaan sadar
f. Wahyu : sesuatu yang diberikan keapda para Nabi dan Rasul
B. Tingkatan Mimpi
a. Mimpi para Nabi dan Rasul, inilah adalah mimpi yang sudah pasti benar disebut dengan ar-ru’ya ash-sholihah
b. Mimpi orang shalih (orang yang tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak sering jatuh dalam dosa kecil), mimpi ini juga merupakan yang benar dan juga disebut ar-ru’ya ash shalihah
c. Mimpi orang yang beriman (orang yang terkadang jatuh kedalam dosa-dosa), mimpi ini terkadang benar dan terkadang tidak.
C. Pertanyaan sekitar mimpi
1. Mungkinkah melihat Allah didalam mimpi ?.
Melihat dalam mimpi tidak seperti melihat ketika sadar. Mimpi ini memiliki takwil dan takbir (pengungkapan) karena di dalamnya terdapat permisalan-permisalan dari kenyataan yang ada.
Kadangkala, sebagian orang yang tidak tidur mendapati penglihatan yang mirip dengan mimpi orang yang tidur. Maka, dia akan melihat dengan isi hatinya semisal apa yang dilihat dalam mimpi, dan kadang akan tampak padanya kebenaran-kebenaran yang dia saksikan dengan hatinya. Ini semua terjadi di dunia.
Terkadang, seseorang dikuasai oleh penglihatan hati dan inderanya, lantas diamenyangka bahwa dia melihat Rabbnya dengan mata kepalanya. Sampai dia bangun dan tahu bahwa ternyata yang dilihatnya tadi adalah mimpi.
Terkadang pula, dia mengetahui dalam tidurnya bahwa dia bermimpi. Begitulah hal yang diperoleh orang-orang yang tekun beribadah, berupa musyahadah (penyaksian) hati yang menguasai dirinya sampai tidak merasakan rasa inderawi-nya. Dia menyangka bahwa itu penglihatan mata telanjang, tetapi ternyata dia salah. Semua orang yang tekun beribadah, baik dari generasi awal atau akhir, yang berkata bahwa dia melihat Rabbnya dengan mata kepalanya adalah orang yang tersalah menurut kesepakatan ahli ilmi dan iman.
Benar bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah dengan mata telanjang di surga. Hal ini juga dialami oleh manusia di pelataran hari kiamat, seperti telah banyak diriwayatkan hadits dari Nabi, yaitu sabda beliau (yang artinya),“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat matahari di tengah hari tidak terhalangi oleh awan, dan seperti melihat bulan purnama di kala langit cerah tanpa awan.’” (Majmu’ Fatawa: 3/389–390)
Syekh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan pula, “Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dan selainnya telah menyebutkan bahwa seseorang dimungkinkan melihat Allah dalam mimpi. Namun yang dilihatnya bukan hakikat Allah yang sebenarnya, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman,
2. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Qs.asy-Syura: 11)
Maka, tidak ada satu pun makhluk yang menyerupai Allah. Oleh karena itu, jika dia dapat melihat Allah dalam mimpi, bahwa Allah berbicara kepadanya, maka bagaimana pun bentuk yang dia lihat itu bukan wujud Allah‘Azza wa Jalla, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang serupa dengan-Nya dan tidak ada pula yang setara.
Syekh Taqiyuddin menyebutkan hal ini, bahwa keadaan melihat Allah berbeda-beda sesuai dengan keadaan orang yang melihat. Jika orang tersebut adalah orang yang paling shalih dan paling dekat dengan kebaikan, maka penglihatannya lebih mendekati kebenaran dan kenyataan. Namun, wujud-Nya tidak dalam bentuk atau sifat yang dilihat oleh orang tersebut, karena pada hakikatnya tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah.
Mungkin saja terdengar suara, ‘Begini dan lakukan ini!’, tetapi di sana tidak ada wujud yang terlihat yang serupa dengan makhluk, karena tidak ada yang serupa dan semisal dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau melihat Allah dalam mimpi. Dari hadits Mu’adz bin Jabal, beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya. Pada beberapa jalan (sanad) dikatakan bahwa beliau melihat Rabbnya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan tangan-Nya antara dua pundak Nabi, sehingga beliau merasakan rasa dingin di dada. Al-Hafidz Ibnu Rajab telah menulis kitab dalam masalah ini, yang dinamakan‘Ikhtiyarul Aula fi Syarhi Hadits Ikhtishamil Mala’il A’la’.
2. Mungkinkah bertemu nabi Muhammad dalm mimpi ?
Mimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah suatu hal yang mungkin dan bisa dialami oleh seseorang, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahîh. Berikut ini adalah hadits-hadits tersebut termasuk penjelasan Ulama dalam penjabarannya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حَقًّا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka". [HR Bukhâri dan Muslim]
3. Bagaimana mendakwa seseorang yang mimpi bertemu nabi ?
a. Tanyakan kepadanya bagaimana sifat kholqiyah maupun khuluqiyah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika sesuai dengan sifat rasul yang terdapat dikitab-kitab hadits terutama dishahih Bukhari
b. Melihat orang tersebut, apakah ia seorang yang shalih atau tidak
4. Sunnah dalam masalah mimpi
a) Mimpi baik
Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda :
الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلَا يُحَدِّثْ بِهِ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفِلْ ثَلَاثًا وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ
”Mimpi baik berasal dari Allah. Jika salah seorang dari kalian melihat apa yang ia suka maka janganlah ia ceritakan mimpi tersebut kecuali kepada orang yang mencintainya saja
1. Berbahagia
2. Menceritakan kepada orang yang dicintainya
3. Jangan menceritakan kepada selain orang yang baik.
b) Mimpi buruk
1. Meludah kekiri 3 kali.
2. Memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari setan 3 kali, dengan membaca
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
“A’udzu billahi minas-syaithanir-rajiim” atau bacaan ta’awudz lainnya).
3. Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut.
4. Atau sebaiknya dia bangun kemudian melaksanakan Shalat.
5. Mengubah pisisi tidurnya dari posisi semula ia tidur, jika ia ingin melanjutkan tidurnya, walaupun ia harus memutar kesebelah kiri, hal ini sesuai zahir hadis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar